Print

Pengujian Hidrodinamika Kapal Pengawas Perikanan Klas B

KapalPengawas 1

Desember 2020

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun  dua unit armada Kapal Pengawas Perikanan baru akan memperkuat armada pengawasan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 571 dan 711. Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono, mengatakan pada tahun ini pihaknya akan membangun 2 unit Kapal Pengawas Perikanan tipe C yang memiliki panjang 32 meter untuk memperkuat pengawasan di wilayah kerja Pangkalan PSDKP Batam dan Stasiun PSDKP Belawan. Saat ini KKP telah memiliki total 34 unit Kapal Pengawas Perikanan terdiri dari empat Kapal Pengawas tipe A dengan panjang lebih dari 50 meter, dua unit Kapal Pengawas tipe B dengan panjang 40-50 meter, sepuluh unit Kapal Pengawas tipe C dengan panjang 30-40 meter, dan tiga belas unit tipe D dan lima unit tipe E. (sumber: Liputan 6). Setelah sebelumnya pada tahun 2019, Kementerian KKP mengadakan kontrak Swakelola dengan Balai Teknologi Hidrodinamika (BTH) untuk pengujian Kapal Pengawas Perikanan Klas C yang beritanya dapat dilihat di "Pengujian Hidrodinamika Kapal Pengawas Perikanan Klas C". Maka pada tahun 2020 ini, Kementerian KKP kembali melakukan kontrak dengan skema Swakelola dengan BTH untuk pengujian Kapal Pengawas Perikanan Klas B. Berdasarkan kontrak No.8/BPPT/BTH/HK.03.02/09/2020 antara Balai Teknologi Hidrodinamika dengan Kementerian KKP, maka BTH mendapatkan order Layanan Jasa meliputi: pembuatan model kapal pengawas perikanan klas B, pembuatan model propeller kapal pengawas perikanan klas B, pengujian tahanan model kapal (Resistance Test), pengujian propulsi model kapal (Propulsion Test), pengujian performa model baling-baling kapal (Open Water Propeller Test), pengujian olah gerak model kapal (Seakeeping Test) dan pengujian manuver model kapal yang dilakukan di fasilitas Towing Tank (TT) dan Manauvering and Ocean Basin (MOB).

Model kapal LHI-0259 dibuat dari material kayu untuk bagian frame dan material multiplek untuk bagian kulit sehingga membentuk bagian lambung dari kapal. Setelah bagian lambung terbentuk dan sesuai dengan gambar kerja, maka dilakukan proses laminasi dengan material fiberglass, agar pada saat digunakan pengujian, air tidak masuk kedalam model kapal. Pembuatan model Kapal Pengawas Perikanan Klas B dilakukan di fasilitas SMWS selama lebih kurang 1 bulan. Mulai dari penggambaran gambar kerja di bagian drawing sampai dengan finishing pengecetan di SMWS. Pengerjaan bangunan atas (superstructure) juga dilakukan di fasilitas SMWS. Untuk proses pengecekan dimensi gambar dan dimensi model (proses QA/QC) dilakukan secara paralel dengan pembuatan gambar dan pembuatan model. Untuk proses QA/QC dilakukan oleh Tim QA/QC Internal BTH. Beberapa foto menunjukkan proses pembuatan model kapal mulai dari penyusunan frame hingga finishing akhir pengecatan model Kapal Pengawas Perikanan Klas B.

KapalPengawas 2

KapalPengawas 3

 

KapalPengawas 4

KapalPengawas 5

 

Untuk pembuatan modle propeller dilakukan menggunakan Mesin CNC 5-Axis yang dimiliki oleh BTH. Model propeller dibuat dari bahan kuningan yang berbentuk pejal dengan diameter yang telah disesuaikan dengan diameter dari propeller yang akan dibuat. Untuk kemudian proses pembentukan bagian Hub dan bagian Daun propeller menggunakan tools yang ada di mesin CNC 5-Axis. Sebelum dilakukan pengujian di Towing Tank untuk Resistance Test dilakukan leveling draft agar model kapal tidak mengalamai trim depan maupun trim belakang dengan penyesuaian peletakan ballast. Kapal Pengawas Perikanan Klas B diuji dengan 2 variasi level draft. Pada pengujian Resistance Test, bangunan atas (Superstructure) tidak dipasang pada model kapal, tetapi displacement model uji harus sama dengan displacement kapal asli yang di-skala-kan. Untuk pengujian Propulsion test dilakukan pada kondisi sarat yang sama dengan pengujian resistence, dimana sarat yang diukur adalah sarat penuh (full load) dan sarat setengah (half load). Sedangkan untuk pengujian performa model baling-baling (open water test) dilakukan pada RPM yang didesain oleh desainer propeller, untuk kemudian nantinya data yang didapatkan berupa data thrust dan torque dari propeller tersebut. Beberapa foto menunjukkan proses pembuatan model propeller dan pengujian yang dilakukan di fasilitas Towing Tank.

KapalPengawas 9

KapalPengawas 10

 

KapalPengawas 7

KapalPengawas 8

 

Sebelum dilakukan pengujian seakeeping, sesuai dengan SOP pengujian seakeeping semua peralatan yang akan digunakan untuk melakukan pengujian seakeeping (motor penggerak, sensor motion tracker, dll) dimasukkan kedalam model kapal untuk ditimbang agar diketahui berapa kebutuhan tambahan ballast agar model kapal memiliki displacement yang sama dengan displacement kapal full scale. Setelah berat model kapal (displacement) sesuai dengan displacement kapal asli yang di-skala-kan, maka proses pencarian jari-jari girasi di meja ayun dapat dilakukan. Jari-jari model kapal dicari untuk mendapatkan nilai koefisien-koefisien yang diperlukan untuk meng-analisa olah gerak model kapal nilai momen xyz dan inersia xyz. Setelah nilai-nilai tersebut didapatkan dari percobaan di meja ayun.

Setelah proses penentuan jari-jari girasi pada meja ayun selesai, maka proses pengujian untuk olah gerak model kapal (Seakeeping Test) dapat dilaksanakan. Untuk pengujian olah gerak model kapal (Seakeeeping Test) dilakukan pada 2 kondisi arah gelombang yaitu arah 180 derajat (head sea) dan arah 135 derajat dengan tipe gelombang (spectrum gelombang) sesuai dengan permintaan dari klien. Dan untuk pengujian manuver model kapal (Manauver Test) menggunakan manuver zig-zag dan manuver turning untuk mendapatkan Tactical Diameter dan Sudut Overshoot Kapal Pengawas Perikanan Klas B. Beberapa foto menunjukkan pengujian di fasilitas Manauver and Ocean Basin (MOB). (PPID/PPT2020)

KapalPengawas 6

KapalPengawas 11

 

KapalPengawas 12

KapalPengawas 13